Postingan

Vox Populi, Vox Dei? The Case for Populism as an Authentic Democratic Impulse

Gambar
Introduction The ancient maxim Vox Populi, Vox Dei —the voice of the people is the voice of God—remains the most beautiful, yet dangerous, promise of democratic life. In the halls of contemporary academia and mainstream media, populism is often treated as a political contagion, a mere precursor to the decay of liberal institutions or a synonym for radical right-wing demagoguery. However, to dismiss populism as a simple pathology is to ignore its structural necessity as a corrective reflex within failing representative systems. This essay argues that populism is not an inherent property of the radical right, but a “thin-centered ideology” capable of manifesting as a legitimate, alternative democratic expression. By revisiting the frameworks of Jan-Werner Müller, Ernesto Laclau, and Thomas Frank, alongside the latest scholarship from 2025 and 2026, we find that populism is less a threat to democracy and more a mirror reflecting its unfulfilled promises. Body Paragraphs Any se...

Tidak Ada Pidana dalam Kasus Nadiem

Gambar
18 tahun penjara, denda Rp1 miliar, dan uang pengganti Rp5,6 triliun. Begitu berat tuntutan yang dilayangkan Kejaksaan Agung kepada Nadiem Makarim dalam kasus pengadaan Chromebook. Angka-angka ini menggema keras di media sosial, diulang-ulang oleh para buzzer , dan perlahan membentuk satu narasi tunggal: bahwa ini adalah kasus korupsi besar, bahwa Nadiem berniat jahat, merugikan negara, dan mengambil keuntungan pribadi. Apalagi belakangan ini muncul fakta bahwa Jurist Tan—tokoh kunci dalam proyek ini—telah ditetapkan sebagai tersangka dan diketahui telah memperoleh izin tinggal tetap atau Permanent Resident di Australia. Hal ini segera dijadikan "bukti mutlak" oleh para pembuat narasi, seolah kepergian dan status hukum Jurist Tan adalah cermin langsung dari kesalahan Nadiem. Namun, jika kita menyingkirkan keributan di media sosial, membaca fakta, data, dan aturan hukum yang berlaku secara jernih, kita akan menemukan satu hal yang sangat berbeda: secara substansi...

Bapak Tua dan Adiknya

Gambar
“Lihat, itu kepala kedua yang mengambang di Brantas! Kupikir di lehernya sudah dikerubungi cacing. Ternyata urat nadinya membengkak!”  Tukang wawancara itu terus mendengar suara parau bapak tua yang masih bergetar dengan cangkulnya. Sawahnya yang bersatu dengan sungai itu membuat beberapa padinya memerah dan terasa amis, terkadang beberapa beberapa burung perampok padi terbang membawa mata dari sela padi.  “Kemarin baru saja beberapa truk AD melintasi jembatan. Entah kenapa senjata-senjata mereka ujungnya selalu saja tumpul.” Bapak itu seperti tersedak sesaat.   “Bukankah akses jembatan itu ditutup?”   “Sejak kapan AD menuruti aturan? Jembatan itu yang nutup AD juga!”  “Baiklah. Terus Bapak tahunya mayat di mana saja?” Bapak tua itu baru saja angkat kaki dari markas Ansor tempat adiknya berlindung. Sejauh ini hanya adik bapak tua itu yang dilirik berbagai simpatisan tentara. Walau beberapa anggota Ansor sempat mencurigai adik bapak tua itu, namun kar...

ANTARA RU'YATUL HILAL DAN HISAB: HARMONI ASTRONOMIS DAN ISLAMI DALAM MENENTUKAN PENANGGALAN

Gambar
Cakrawala Iman dan Presisi Semesta Di hamparan langit yang tak bertepi, tersimpan rahasia waktu yang terus berputar dalam harmoni yang sempurna. Manusia, sejak masa purba hingga era kecerdasan buatan, selalu menengadah ke langit untuk mencari kepastian tentang ritme kehidupan. Dalam tradisi Islam, pencarian ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menentukan ibadah. Matahari dan bulan diciptakan bukan tanpa alasan, melainkan sebagai kompas alami bagi hamba-hamba-Nya. Perdebatan antara pengamatan mata telanjang dan hitungan matematis sebenarnya adalah dua sisi dari koin keagungan Tuhan yang sama. ​Secara filosofis, waktu dalam Islam adalah napas yang mengalir dalam garis linier menuju keabadian namun berputar dalam siklus ibadah. Kita mengenal dua metode besar yang sering kali menjadi diskursus hangat setiap menjelang Ramadan atau Syawal. Ru’yatul Hilal menawarkan keintiman antara hamba dan pencipta melalui kesaksian mata yang renda...

Tentang Teras Akal: Memulangkan Ilmu ke Meja Makan

Gambar
Dunia hari ini bergerak begitu cepat, sering kali melampaui kemampuan kita untuk mencerna maknanya. Kita dibombardir oleh ribuan informasi setiap harinya, namun ironisnya, kita sering kali merasa semakin asing dengan hakikat pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan terkadang terasa seperti menara gading yang tinggi dan dingin—sulit dijangkau dan penuh dengan istilah yang mengernyitkan dahi. Di titik inilah, Teras Akal hadir sebagai sebuah jeda. ​ Teras Akal adalah sebuah ruang digital yang lahir dari keresahan sederhana: mengapa hal-hal yang penting sering kali dibuat menjadi rumit? Kami percaya bahwa filsafat, sastra, dan ilmu pengetahuan bukanlah konsumsi eksklusif para akademisi di ruang kuliah yang tertutup. Sebaliknya, pengetahuan adalah milik siapa saja yang memiliki rasa ingin tahu. Mengapa "Teras"?  Nama "Teras" dipilih bukan tanpa alasan. Teras adalah bagian dari rumah yang paling terbuka; tempat kita duduk bersantai, menghirup udara segar, d...