Bapak Tua dan Adiknya



“Lihat, itu kepala kedua yang mengambang di Brantas! Kupikir di lehernya sudah dikerubungi cacing. Ternyata urat nadinya membengkak!”

 Tukang wawancara itu terus mendengar suara parau bapak tua yang masih bergetar dengan cangkulnya. Sawahnya yang bersatu dengan sungai itu membuat beberapa padinya memerah dan terasa amis, terkadang beberapa beberapa burung perampok padi terbang membawa mata dari sela padi.

 “Kemarin baru saja beberapa truk AD melintasi jembatan. Entah kenapa senjata-senjata mereka ujungnya selalu saja tumpul.” Bapak itu seperti tersedak sesaat.
 
“Bukankah akses jembatan itu ditutup?”
 
“Sejak kapan AD menuruti aturan? Jembatan itu yang nutup AD juga!”

 “Baiklah. Terus Bapak tahunya mayat di mana saja?”

Bapak tua itu baru saja angkat kaki dari markas Ansor tempat adiknya berlindung. Sejauh ini hanya adik bapak tua itu yang dilirik berbagai simpatisan tentara. Walau beberapa anggota Ansor sempat mencurigai adik bapak tua itu, namun karena ia terlihat paham agama; hafal doa persaksian, ia dilindungi. Hanya bapak tua itu yang aman dari mata tajam musuh PKI itu.
 
Bapak tua membawakan beberapa karung padi hasil panennya. Karena pusat AD meminta para tani memberikan simpati lebih ke tentara agar terstigma ia bukan bagian dari partai haram itu. Bapak tua itu merelakan setengah hasil panennya demi tato PKI di pahanya tidak terpampang di markas besar AD.

Beberapa hari gonjang-ganjing Istana Presiden meninggalkan tanda tanya besar. Bung Karno saat itu lalai hingga suatu pagi setelah malam pembunuhan, radio pusat sudah terbajak dan Jenderal Untung terdengar membacakan nama-nama jenderal pengganti.

“Sekian dan terima kasih.” Radio itu menggelegar di warung kelontong pinggir jembatan.
 
“Halah kambing Bung Karno! Bilangnya ke pangkalan udara tempat jenderal dibunuh bilangnya jaga-jaga.” Bapak tua itu bermuka dua sesaat dengan memaki Bung Karno di depan teman-teman pegawainya.”
 
“Kemarin Pak petani di Manisrenggo sana banyak yang hilang. Itu Tamanan juga banyak warga beli gapura dari tentara.”
 
“Ya kau lihat sendiri kan gimana Bung Karno itu. Bilangnya presiden seumur hidup tapi bunuh-bunuh jenderal!”
 
Bapak tua itu menghiasi gelap dengan bulan yang memancarkan cahaya merah, membuat mega-mega di sampingnya memerah juga. Hangat warung itu menengahi dingin sepertiga malam yang akan berakhir.
 
Tiba-tiba terdengar serentetan bedil yang membuat hotel Belanda di seberang warung itu berlubang kacanya. Beberapa pelacur berlarian seperti dikejar anjing di musim kawin. Bapak tua dan teman-temannya itu ikut terpecah belah ke segala sisi hingga warung itu seperti warung hantu yang tetap memasak teh tanpa pemiliknya yang terlihat.

Beberapa wanita terlihat terlentang telanjang bulat tak bernyawa. Yang sama dari mereka semua adalah pundak dan paha mereka kehilangan beberapa kulitnya. “Mereka pasti Gerwani,” gumam bapak tua itu.
 
Terkadang beberapa wanita masih menetes sperma dari kemaluannya.
 
Beberapa Ansor sedang bersiap dengan lap karena jijik, bukan karena lawan jenis, tapi karena mereka Gerwani. Mereka menyeret wanita-wanita telanjang itu ke Brantas di sampingnya. Beberapa buaya terlihat dengan mulutnya yang menganga, siap menyambut santapan selanjutnya setelah mayat bayi pagi tadi.
 
Adik bapak tua itu hampir saja terlempar ke buaya putih yang menganga lebih lebar.
 Kini kolong jembatan itu tersisa sisa sperma entah siapa pemiliknya.

Malam itu burung hantu sedang bersiul merayu pasangan kawinnya. Seakan ini musim kawin, sunyi tiada mendatangi Banjaran yang mulai kehilangan pengemis yang tidur di sekitar ruko-ruko.
 
Beberapa sudut desa dikalungi rantai kawat yang siap membelah tubuh siapa saja. Bukan tentara bersenjata lengkap yang menjaga, tapi rombongan Ansor dari beberapa markas di kota ini. Saat itu lebih banyak ditemui mayat-mayat, rata-rata terlihat seperti hukuman gantung di setiap pohon di desa ini. Terkadang juga wanita telanjang yang tergantung dalam keadaan paha hangus menjadi residu.
 
Dari jalur barat terdengar dengus asap mobil berat. Beberapa Ansor bersiap dengan kayu dan parang masing-masing. Bahkan ada yang tersisa tangan Kepala Desa.
 
Mobil itu memuntahkan lima orang berseragam loreng yang menyatu dengan mata bulan. Tiada perlawanan atau acungan senjata. Seorang pria berseragam mencolok maju dan bersalaman dengan salah seorang Ansor yang telanjang dada.
 
“Aman Kang?” buka pria berseragam mencolok itu.
 
“Hari ini baru dua komunis yang tangannya kami putus.”
 
“Sebelum ini tadi ada yang datang?”
 
“Jalur utara tadi ada penyerbuan. Ratusan Barisan Tani menyerang jalur itu pakai cangkul. Untungnya teman kami aman sentosa. Paling saya saja yang punggungnya tergores parang.”
 
“Kira-kira ini nanti bisa sampai jam berapa?”
 
“Kira-kira sampai pagi bisa. Tapi kami butuh konsumsi. Kami bukan kanibal. Itu daging bayi bawah pohon bambu itu sudah termakan lalat.”
 
“Aman. Teman kau dari jalur utara sudah dapat konsumsi. Mereka sudah kusuruh bagi ke kau nanti.”
 
“Aman. Ngomong-ngomong kabar terbaru apa nih?”
 
“Masih biasa. Sementara ini banyak yang lari ke Wilis. Tapi di sana sudah banyak yang dikubur. Kayaknya 200 orang dibuang ke ladang jagung.”
 
“Yaudah Pak. Silakan kembali bertugas.”
 
“Kau jaga daerah ini, kalau ada orang yang kau curigai, nggak usah kau pikir dia PKI atau bukan. Langsung penggal kepalanya. Masalah bayi-bayi juga nggak usah khawatir, di bawah sana masih cukup untuk bayi.”

“Itulah Pak laporan sementara di daerah Banjaran. Sebenarnya saya sudah beberapa kali di sana karena basis saya di sana.“
 
“Terus, kakak kau ini nggak ikut jaga juga?” tanya tukang wawancara itu ke bapak tua itu.
 
“Saya hanya petani biasa Pak. Setiap hari mondar-mandir sawah. Kalau pergi ya cuma ke balai desa ambil bantuan pupuk.”
 
“Terus untuk di mayat-mayat itu kalian apakan kalau ketemu? Coba Bapak yang jelaskan,” sambil menunjuk bapak tua itu.
 
“Kalau ketemu mata atau bagian-bagian kecil ya saya lempar ke Brantas gitu aja. Kadang juga nggak ada karena sudah di makan burung-burung. Kalau ketemu tangan ya saya seret ke atas ke kebun pisang. Di sana biasanya beberapa tangan juga dibakar bersama-sama.
 
“Bapak pernah ketemu mayat utuh?”
 
“Pernah sekali. Waktu yang itu ketika saya diburu tentara, saya tenggelam ke Brantas sambil berpegangan ke akar beringin di sana. Untungnya tiada buaya yang nafsu menyantap saya. Saya sekilas melihat mereka di sawah saya. Saat itu gelap dan masih banyak burung hantu. Tapi yang menjadi bising terakhir di sana ketika suara dua kali tembakan terdengar. Sekilas saya mengintip dan melihat seorang perempuan di balik beringin ini ditembak. Mereka tidak melihat saya untungnya. Wanita itu diseret ke tengah sawah, beberapa saat kemudian dilempar ke Brantas.”
 
“Sebelum dibuang yang kau ingat mereka?”
 
“Mereka membuka celana mereka.”

“Terus kapan kalian tiba-tiba ditangkap?” tanya tukang wawancara itu ke adik bapak tua itu.
 
“Waktu kami sedang mengambil bantuan di balai desa. Tiba-tiba di pagar kami diseret masuk ke mobil tentara.”
 
Tukang wawancara itu berdiri dan merakit pisau kecil dari kantong celananya yang masih loreng-loreng. Tiba-tiba kulit paha bapak tua dan adiknya itu yang terpampang gambar palu dan arit disobek, lalu diusap ke bibir mereka masing-masing.
 
“Maaf. Kalian berdua ditangkap.”

WRITER: NASKAH SENJA
EDITOR: DEVON RICHARD HAFIDS F.P.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Pidana dalam Kasus Nadiem

ANTARA RU'YATUL HILAL DAN HISAB: HARMONI ASTRONOMIS DAN ISLAMI DALAM MENENTUKAN PENANGGALAN